Jumat, 14 Oktober 2011

From Chiang Mai to Ayutthaya by Train

Mengunjungi Thailand -- Bagian 1

Ki-ka: Yoke, Gani & Handoko, mejeng di Sta. Chiang Mai
 Selepas acara APTA, Jumat pagi di tanggal 16 September, kami bergegas menuju Stasiun Kereta Api Chiang Mai.  Dari hotel tempat kami menginap, hanya memakan waktu 15-20 menit menuju stasiun.  Stasiun Chiang Mai merupakan stasiun akhir, sama seperti stasiun Jakarta Kota.  Kesan pertama yang terlihat adalah kebersihan dan ketenangannya. Rupanya tidak banyak warga Chiang Mai yang menggunakan kereta api.  Beda dengan penggemar atau penggila KA Komuter Jabodetabek yang sejak subuh sudah menjajah tiap-tiap jengkal peron stasiun.  Suasana begitu lenggang, demikian pula penumpang yang hendak menaiki kereta ke jurusan Bangkok hanya terlihat beberapa orang saja.


Ki-ka: Gabriel, Yoke & Gani, di depan DRC "Sprinter"
Raden Mas Gani
 Dengan menumpang kereta DRC (Diesel Railcar Express), yang juga disebut Sprinter, destinasi kami selepas Chiang Mai adalah Ayutthaya.  Mengapa Ayutthaya?  Ayutthaya adalah Ibukota kuno Kerajaan Siam (nama lama Thailand).  Kota ini adalah kota yang dilindungi oleh UNESCO sebagai salah satu situs peninggalan sejarah dunia.  Kalau boleh memberi julukan, Ayutthaya bisa disebut sebagai kota 1000 candi.  Karena memang di kota ini bertebaran candi-candi dalam jarak yang berdekatan satu dengan yang lainnya.  Memang sejak masih di tanah air, sudah ada kesepakatan bahwa kami akan nge’backpacker’ria sebelum kembali ke Indonesia. Sayang kan bila sudah sampai ke Thailand, bila terlewatkan melihat-lihat keindahan negeri ini.  Makanya jauh-jauh hari, dihimbau dengan paksa kepada rekan-rekan untuk tidak mengambil or menerima pelayanan di hari minggu (tanggal 18-nya) hehehe…


Kereta yang kami naiki, dengan rute Chiang Mai-Bangkok merupakan kereta Diesel (Indonesianya ”KRD”) dengan 3 rangkaian gerbong saja, namun gerbong DRC kelihatannya lebih panjang dari gerbong PT KAI.  Kereta buatan Daewoo (Korsel) adalah kereta tipe kelas 2 ber-AC dan kipas angin.  Tiketnya lumayan murah, bila Chiang Mai - Bangkok (setara Jakarta -Surabaya) dihargai 611 Bath (1 bath = Rp 290,.), maka Chiang Mai - Ayutthaya seharga 586 Bath.  Kota Ayutthaya hanya berjarak 80 km dari kota Bangkok.  Kalau dirupiahkan menjadi Rp 170.000/orang.  Kalau mau naik kereta yang ada tempat tidurnya atau kelas 1, harga tiketnya sekitar 1,453 Bath atau Rp 421.400/orang.  Sangat tidak disarankan untuk naik kelas 3, walaupun tiketnya cuma 271 Bath atau Rp 79.000-an, tapi kursinya adalah kursi kayu dan tanpa jendela.  Pejabat PT. KAI perlu diapresiasi, karena untuk kelas ekonomi, Indonesia masih lebih baik dari Thailand. Plok..plok..plok..plok..suit..suitttt

Raden Mas Gabriel & Yoke
Pramugari sedang bagi-bagi jatah
 Walau tiket DRC tergolong murah, namun pelayanan yang diberikan cukup memuaskan. Disediakan Makan Siang dan Makan Malam serta diberi Snack + kopi/teh pada pagi dan sore hari.  Dibandingkan dengan kereta Argo yang makan besarnya cuma sekali, maka kereta di Thailand lebih top. Apalagi kebersihan gerbong dan  toilet begitu terjaga.  Ada 1 petugas kebersihan yang menyapu mengepel lantai gerbong serta membersihkan toilet.  Soal keamanan juga terjamin, karena ada petugas keamanan yang stand-by.  Sempat berangan-angan, kapan yah naik Argo dapat makan 2 kali plus snack 2 kali juga plus bebas jambret/copet... Untuk itu ditarik lagi apresiasi bagi pejabat KAI di paragraf sebelumnya, diganti sorakan huuuuuuuuuuu....hehehehehe
Menu Makan Siang + Air Es
Menu Makan Malam + Air Es Lagee..
 Kereta berangkat tepat pukul 08.45.  Di tiket tertulis jam masuk kota Ayutthaya pukul 19.00.  Jadi kami akan menghabiskan waktu selama 10 jam lebih.
Perjalanan pagi itu sangat nikmat, berhubung gerbong yang kami tempati, hanya diisi 7 orang, maka masing-masing memilih duduk dekat jendela. Pemandangan alam Thailand dengan hutan yang masih perawan, hamparan sawah hijau royo-royo, sungai berkelok-kelok sangat memanjakan mata. Apalagi kami berangkat dari daerah pegunungan ke arah selatan Thailand yang rendah, tentunya sungguh mengasyikkan. 

Pemandangan di daerah utara Thailand
 Tak ada gading yang tak retak, demikianlah yang terjadi dengan perjalanan kami. Rupanya banjir yang melanda kawasan Thailand bagian tengah begitu parah sampai turut merendam beberapa bagian rel kereta yang kami lewati.  Bukan sekali atau dua kali, kereta harus berhenti lalu kemudian berjalan perlahan-lahan untuk melewati genangan.  Kami sendiri cukup bergidik melihatnya.  Kesannya seperti berjalan di atas danau atau laut, karena daerah di kiri kanan rel sudah rata dengan air.  Apalagi muncul ombak/gelombang karena roda-roda kereta yang melibas genangan air.

Banjir yg melanda kawasan tengah Thailand
Banjir..banjir...
 Walhasil jam ketibaan meleset jauh.  Dari yang seharusnya pukul 19.00 menjadi molor 4 jam. Jam 23.00 kami baru tiba dan turun di stasiun Ayutthaya.  Rencana untuk wisata kuliner malam di Ayutthaya gagal total.  Sempat muncul kekuatiran karena kami harus mencari hotel yang sudah dibooking semenjak masih di Chiang Mai.  Untungnya waktu itu kami memilih hotel yang dekat dengan stasiun.  Ternyata hanya berjalan kaki 8-10 menit dari stasiun, kami tiba di Ayutthaya Riverside Hotel.  Akhirnya kami bisa beristirahat setelah puas berkereta seharian.  (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar